Wednesday, December 28, 2016
A. INTERELASI ANTARA FILSAFAT DENGAN AGAMA
Pengertian filsafat, dalam sejarah perkembangan pemikiran kefilsafatan antara satu ahli dengan ahli filsafat lainnya selalu berbeda, dan hampir sama banyaknya dengan ahli filsafat itu sendiri. Filsfat menurut etimologi adalah berasal dari Bahasa Arab dari kata falsafah dan dalam bahasa Inggris dikenal dengan istilah philosophy adalah berasal dari bahasa Yunani. Arti filsafat sendiri adalah pecinta atau pencari kebijaksanaan.[1] Sedangkan menurut terminologi adalah ilmu (pengetahuan) yang meliputi kebenaran yang didalamnya terkandung ilmu-ilmu metafisika, logika, retorika, etika, ekonomi, politik, dan estetika (filsafat kebenaran).[2]
Menurut sejarah, agama tumbuh bersamaan dengan berkembangnya kebutuhan manusia. Salah satu dari kebutuhan itu adalah kepentingan manusia dalam memenuhi hajat rohani yang bersifat spritual, yakni sesuatu yang dianggap mampu memberi motivasi semangat dan dorongan dalam kehidupan manusia. Oleh karena itu, unsur rohani yang dapat memberikan spirit dicari dan dikejar sampai akhirnya mereka menemukan suatu zat yang dianggap suci, memiliki kekuatan, maha tinggi dan maha kuasa. Sesuai dengan taraf perkembangan cara berpikir mereka, manusia mulai menemukan apa yang dianggapnya sebagai Tuhan.
Dapatlah dimengerti bahwa hakikat agama merupakan fitrah naluriah manusia yang tumbuh dan bekembang dari dalam dirinya dan pada akhirnya mendapat pemupukan dari lingkungan alam sekitarnya. Ada yang menganggap bahwa agama di dalam banyak aspeknya mempunyai persamaan dengan ilmu kebatinan. Yang dimaksud ilmu agama di sini pada umumnya adalah agama-agama yang bersifat universal. Artinya para pengikutnya terdapat dalam masyarakat yang luas yang hidup di berbagai daerah.
Di samping itu ajarannya sudah tetap dan ditetapkan (established) di dalam kaedahnya atau ketetapannya dan semuanya hanya dapat berubah di dalam interpretasinya saja. Agama mengajarkan para penganutnya untuk mengatur hidupnya agar dapat memberi kebahagiaan di dunia dan akhirat baik kepada dirinya sendiri maupun kepada masyarakat di sekitarnya. Selain itu agama juga memberikan ajaran untuk membuka jalan yang menuju kepada al-Khaliq, Tuhan yang Maha Esa ketika manusia telah mati.
Ajaran agama yang universal mengandung kebenaran yang tidak dapat dirubah meskipun masyarakat yang telah menerima itu berubah dalam struktur dan cara berfikirnya. Maksud di sini adalah bahwa ajaran agama itu dapat dijadikan pedoman hidup, bahkan dapat dijadikan dasar moral dan norma-norma untuk menyusun masyarakat, baik masyarakat itu bersifat industrial minded, agraris, buta aksara, maupun cerdik pandai (cendikiawan). Karena ajaran agama itu universal dan telah estabilished, maka agama itu dapat dijadikan pedoman yang kuat bagi masyarakat baik di waktu kehidupan yang tenang maupun dalam waktu yang bergolak. Selain itu, agama juga menjadi dasar struktur masyarakat dan member pedoman untuk mengatur kehidupannya. Kemudian kita kembali kepada arti harfiah dari agama itu.
B. INTERELASI ANTARA FILSAFAT DENGAN ILMU PENGETAHUAN
Ilmu adalah bagian dari pengetahuan. Karena pengetahuan adalah unsur dari kebudayaan, maka ilmu yang merupakan bagian dari pengetahuan dengan sendirinya juga merupakan salah satu unsur kebudayan.
antara ilmu dan kebudayaan ada hubungan timbal balik, Perkembangan ilmu tergantung pada perkembangan kebudayaan, sedangkan perkembangan ilmu dapat memberikan pengaruh pada kebudayaan. Keadaan sosial dan kebudayaan, saling tergantung dan mendukung. jadi interelasi antara filsafat,pendidikan dan budaya ibarat mata rantai yang saling berhubungan dan tidak bisa dipisahkan.
Apakah hubungan antara filsafat dengan ilmu pengetahuan? Oleh Louis Kattsoff dikatakan: Bahasa yang pakai dalam filsafat dan ilmu pengetahuan dalam beberapa hal saling melengkapi. Hanya saja bahasa yang dipakai dalam filsafat mencoba untuk berbicara mengenai ilmu pengetahuan, dan bukanya di dalam ilmu pengetahuan. Namun, apa yang harus dikatakan oleh seorang ilmuwan mungkin penting pula bagi seorang filsuf. Pada bagian lain dikatakan: Filsafat dalam usahanya mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan pokok yang kita ajukan harus memperhatikan hasil-hasil ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan dalam usahanya menemukan rahasia alam kodrat haruslah mengetahui anggapan kefilsafatan mengenai alam kodrat tersebut. Filsafat mempersoalkan istilah-istilah terpokok dari ilmu pengetahuan dengan suatu cara yang berada di luar tujuan dan metode ilmu pengetahuan. Dalam hubungan ini Harold H. Titus menerangkan: Ilmu pengetahuan mengisi filsafat dengan sejumlah besar materi yang faktual dan deskriptif, yang sangat perlu dalam pembinaan suatu filsafat. Banyak ilmuwan yang juga filsuf.
Para filsuf terlatih di dalam metode ilmiah, dan sering pula menuntut minat khusus dalam beberapa ilmu sebagai berikut:
1. Historis, mula-mula filsafat identik dengan ilmu pengetahuan, sebagaimana juga filsuf identik dengan ilmuwan.
2. Objek material ilmu adalah alam dan manusia. Sedangkan objek material filsafat adalah alam, manusia dan ketuhanan.
Ditinjau dari segi historis, hubungan antara filsafat dan ilmu pengetahuan mengalami perkembangan yang sangat menyolok. Pada permulaan sejarah filsafat di Yunani, “philosophia” meliputi hampir seluruh pemikiran teoritis. Tetapi dalam perkembangan ilmu pengetahuan di kemudian hari, ternyata juga kita lihat adanya kecenderungan yang lain. Filsafat Yunani Kuno yang tadinya merupakan suatu kesatuan kemudian menjadi terpecah-pecah.[3]
Lebih lanjut Nuchelmans (1982), mengemukakan bahwa dengan munculnya ilmu pengetahuan alam pada abad ke 17, maka mulailah terjadi perpisahan antara filsafat dan ilmu pengetahuan. Dengan demikian dapatlah dikemukakan bahwa sebelum abad ke 17 tersebut ilmu pengetahuan adalah identik dengan filsafat. Pendapat tersebut sejalan dengan pemikiran Van Peursen (1985), yang mengemukakan bahwa dahulu ilmu merupakan bagian dari filsafat, sehingga definisi tentang ilmu bergantung pada sistem filsafat yang dianut.[4]
Dengan demikian, perkembangan ilmu pengetahuan semakin lama semakin maju dengan munculnya ilmu-ilmu baru yang pada akhirnya memunculkan pula sub-sub ilmu pengetahuan baru bahkan kearah ilmu pengetahuan yang lebih khusus lagi seperti spesialisasi-spesialisasi. Oleh karena itu tepatlah apa yang dikemukakan oleh Van Peursen (1985), bahwa ilmu pengetahuan dapat dilihat sebagai suatu sistem yang jalin-menjalin dan taat asas (konsisten) dari ungkapan-ungkapan yang sifat benar-tidaknya dapat ditentukan.[5]
Interelasi Filsafat Pendidikan Islam dengan Ilmu Kalam
Filsafat adalah suatu pemikiran yang bersifat rasional, universal, sistematis serta radikal. Pada dasarnya filsafat banyak mempunyai peran penting dalam lahirnya ilmu-ilmu islam. Lahirnya ilmu kalam disebabkan persoalan-persoalan yang muncul pada saat Rasulullah wafat, pertanyaan yang semula praktis dapat menjadi suatu permasalahan. Kajian Alqur’an pada saat itu sangat penting. Kajian Alqur’an dibahas bertujuan untuk mengetahui Apakah kalam Allah bersifat qadim atau hadits?, tetapi kemudian pertanyaan tersebut berkembang menjadi pembahasan tentang Allah dengan sifat-sifat-Nya. Disamping itu bahwa untuk memahami maksud yang sebenarnya dari wahyu (ayat-ayat Alqur’an) tidak mungkin tanpa menggunakan akal. dalam sistem ilmu kalam digunakan dalil-dalil naqli yang berupa penegasan penjelasan dari wahyu, dan dali aqli yaitu penggunaan akal pikiran. Tetapi dalam prakteknya, ternyata dalil-dalil aqli lebih dominan penggunaannya, karena berkembangnya ilmu kalam tersebut dengan tujuan untuk mempertahankan aqidah islam dari serangan dan rongrongan ajaran filsafat lain. Disamping itu bahwa untuk memahami maksud yang sebenarnya dari wahyu (ayat-ayat alqur’an) tidak mungkin tanpa menggunakan akal. Dengan demikian segi-segi filsafat dalam ilmu kalam lebih menonjol. Ketika filsafat berperan dalam lahirnya ilmu kalam maka banyak golongan yang berfikir menggunakan rasionalitas sehingga dapat memunculkan golongan-golongan baru dengan anggapan dan keyakinan yang berbeda-beda pula.
Filsafat pendidikan islam menunjukan bahwa potensi pembawaan manusia tidak lain adalah sifat-sifat Tuhan, atau Al asma’ al husna, dan dalam mengembangkan sifat-sifat Tuhan tersebut dalam kehidupan kongkret, tidak mengarah kepada menodai dan merendahkan nama dan sifat Allah. Menurut konsep pendidikan dalam islam bahwa pada hakikatnya manusia sebagai khalifah Allah di alam, manusia mempunyai potensi untuk memahami, menyadari, dan kemudian merencanakan pemecahan problema hidup dan kehidupannya.
Dalam ilmu kalam kita mengenal Al-Asmaul Husna yang diajarkan dan ditanamkan dalam diri manusia sehingga sehingga merupakan potensi untuk tumbuh dan berkembang. Di antara Al-Asma’ tersebut misalnya Al-Khaliq (pencipta), Al-Kudrah (kuasa), Al-iradah (berkehendak), Al-Hayy (hidup), Al-Qayyum (bediri sendiri) dan sebagainya, kesemuanya meupakan potensi-potensi pembawaan yang tertanam dalam diri manusia. Diantara tugas kekhalifahan, adalah mengembangkan potensi pembawaan tersebut dalam alam, dalam kehidupan nyata. Dalam mengembangkan Al-Asma’ tersebut, manusia diberi petunjuk oleh Allah. Petunjuk tersebut berupa aturan-aturan atau hukum-hukum yang telah diciptakan oleh Allah, baik yang tersurat dalam Al-Qur’an maupun tersirat dalam sunnatullah. Kaitannya dengan dunia pendidikan pada era sekarang ini, melalui kurikulum yang semakin maju kita juga mempunyai peran untuk memajukan pendidikan, khususnya pada bidang agama islam. Dengan melakukan metode-metode pengajaran yang di dalamnya terdapat pembelajaran tentang Asmaul Khusna, akan menjadikan seorang peserta didik yang mampu menanamkan potensi dirinya untuk tumbuh berkembang.
Dengan kata lain islam menghendaki agar manusia melaksanakan pendidikan diri sendiri secara bertanggung jawab, agar tetap berada dalam kehidupan islami. Hal ini akan memberikan petunjuk pembinaan kurikulum yang sesuai dan pengaturan yang diperlukan. Dalam analisanya terhadap masalah-masalah yang dihadapi dalam pendidikan islam masa kini akan dapat memberikan informasi apakah proses pendidikan islam yang berjalan selama ini mampu mencapai tujuan pendidikan islam yang ideal atau tidak. Dapat merumuskan dimana letak kelemahannya, dan dengan demikian bisa memberikan alternative-alternatif perbaikan dan pengembangannya. Perbaikan-perbaikan tersebut dapat terwujud berupa perubahan-perubahan pada kurikulum pada setiap periodenya. Kurikulum yang terus menerus berubah akan berdampak terhadap perekembangan kemampuan pada peserta didik, khususnya kemampuan dalam memahami dan menanamkan nilai-nilai islami.
Pada penerapannya dalam pendidikan bisa diterapkan pada pemberian mata pelajaran yang menyangkut pembahasan tentang ilmu kalam. Misalnya saja mata pelajaran Aqidah Akhlak, mata pelajaran ini diajarkan untuk mencapai tujua pedidikan islam yang bersangkutan dengan ilmu kalam, yaitu pemahaman tentang sifat-sifat Allah. Seorang pendidik harus mempunyai cara atau metode yang dapat dikembangkan untuk memberikan penjelasan tentang sifat-sifat Allah serta memberikan penjelasan bahwa manusia di berikan Allah sebagai khalifah di bumi. Seorang pendidik harus mampu menjelaskan bagaimana makna manusia sebagai khalifah di bumi, bukan hanya menjelasakan tetapi juga harus member suri tauladan yang dapat jadi panutan pada kehidupan nyata.
Lewat penjelasan-penjelasan diatas dapat diketahui bahwa filsafat sangat berperan dalam munculnya ilmu kalam, yang berawal dari wafatnya Rasulullah. dan muncul banyak pendapat tokoh-tokoh yang menjadikan Al-Qur’an sebagaikajian utamanya. Dan lama kelamaan pendapat para tokoh mulai berkembang dan pemikirannya semakin luas yang bukan hanya berpusat pada pembahasan tentang Al-Qur’an itu Qadim atau Hadits. Tetapi perbedaan pendapat tentang ajaran atau syariat agama islam di berbagai aliran-aliran yang muncul, seperti Asy’ariyah, Maturidiyah serta Mu’atzilah. Dan lewat pemikiran logis (filsafat) ilmu kalam berkembang dalam dunia pendidikan, khususnya pendidikan agama islam.
Friday, December 23, 2016
syair kitab jauhar tauhid, permata ilmu tauhid
Syair kitab jauhar tauhid
Haryanto Mata Kuliah Tauhid
1- الحَمْدُ لِلّهِ عَلَى صِلاَتِـهِ - ثُمَّ سَلاَمُ اللهِ مَـعْ صَلاَتِـهِ
2- عَلَى نَبِيّ جَاءَ بِالتَّوْحِيدِ - وَقَدْ عَرَى الدِّينُ عَنِ التَّوْحِيدِ
3- فَأَرْشدَ الخَلْقَ لِدِينِ الحَقِّ - بِسَيْفِـهِ وَهَدْيِـهِ لِلـحَـقِّ
4- مُحَمَّدِ الْعَاقِبْ لِرُسْلِ رَبِّهِ - وَآلِـهِ وَصْحِبِـهِ وَحِزْبِـهِ
5- وَبَعْدُ: فَالْعِلْمُ بأَصْلِ الدِّيـنِ - مُحَـتَـمٌ يَحْـتَـاجُ لِلتَّبْيِـيـن
6- لكِنْ مِنَ التَّطْوِيِل كَلَّتِ الْهِمَمْ - فَصَارَ فِيـهِ الاِخْتِصَـارُ مُلْتَـزَمْ
7- وَهـذِهِ أُرْجُـوزَةٌ لَقَّبْتُهَـا:[جوْهَرَةَ التَّوْحِيدِ]. قَدْ هَذَّبْتُهَـا
8- وَاللهَ أَرْجُو فِي الْقَبُولِ نَافِعًا - بِهَا مُرِيدًا فِي الثَّـوابِ طَامِعًـا
9- فَكُلُّ مَنْ كُلَّـفَ شَرْعًـا وَجَبَـا - عَلَيْهِ أَنْ يَعْـرِفَ: مَـا قَـدْ وَجَبَـا
10- لِلّـهِ وَالجَائـزََ وَالمُمْتَنِـعَـا - وَمِـثْـلَ ذَا لِرُسْـلِـهِ فَاسْتَمِـعَـا
11- إِذْ كُلُّ مَنْ قَلَّدَ فِـي التَوْحِيـدِ - إِيمَانُـهُ لَـمْ يَخْـلُ مِـنْ تَـرْدِيـدِ
12- فَفِيهِ بَعْضُ الْقَوْمِ يَحْكِي الخُلْفَا - وَبَعْضُهُـمْ حَقَّـقَ فِيـهِ الْكَشْـفَـا
13- فَقَالَ: إِنْ يَجْزِمْ بِقَوْلِ الْغَيْـرِ - كَفَى وَإِلا لَـمْ يَـزَلْ فِـي الضَّيْـرِ
14- وَاجْزِمْ بِأَنَّ أَوَّلاً مِمَّـا يَجِـبْ - مَعَرِفَـةٌ وَفِيـهِ خُلْـفٌ مُنْتَـصِـبْ
15- فَانْظُرْ إِلَى نَفْسِكَ ثُـمَّ انْتَقِـلِ - لِلْعَالـمَ العُلـوِيِّ ثُــمَّ السُّفْـلِـي
16- تَجِدْ بِهِ صُنْعًا بَدِيـعَ الْحِكَـمِ - لكِـنْ بِـهِ قـامَ دَلِـيـلُ الْـعَـدَمِ
17- وَكُلُّ مَا جَـازَ عَلَيْـهِ الْعَـدَمُ - عَلَيْـهِ قَطْعًـا يَسْتَحِيـلُ الْـقِـدَمُ
18- وَفَسِّرَ اْلإِيمَـانُ: بِالتَّصْدِيـقِ - وَالنُّطْقُ فِيـهِ الخَلْـفُ بِالتَّحْقِيـقِ
19- فَقِيلَ: شَرْطٌ كالْعَمَلْ. وَقِيلَ: بَلْ - شَطْرٌ وَالاسْـلاَمِ اشْرَحَـنَّ بِالْعَمَـلْ
20- مِثَالُ هذَا: الحَـجُّ وَالصَّـلاَةُ - كَـذَا الصِّيَـامُ فَــادْرِ وَالـزَّكـاةُ
21- وَرُجِّحَـتْ: زيَـادَةُ اْلإِيمَـانِ - بِمَـا تَزِيـدُ طَـاعَـةُ اْلإِنْـسَـانِ
22- وَنَقَصُهُ بِنَقْصهَـا. وَقِيـلَ: لاَ - وَقِيـلَ لاَ. خُلْـفَ كَـذَا قَـدْ نُقـلاَ
23- فَوَاجبٌ لهُ: الْوُجُودُ وَالْقِـدَمْ - كَـذَا بَقَـاءٌ لاَ يُشَـابُ بِالْـعَـدَمْ
24- وَأَنَّـهُ لِمَـا يَنَـالُ الْـعَـدَمُ - مُخَالـفٌ بُرْهَـانُ هــذَا الْـقِـدَمُ
25- قِيَامُـهُ بِالنَّفـس وَحْدَانيَّـةْ - مُنَـزَّهًـا أَوْصَـافُـهُ سَـنِـيَّـةْ
26- عَنْ ضِدٍّ أَوْ شِبْهٍ شَرِيكٍ مُطْلَقَا - وَوَالَـدٍ كَـذَا الْوَلَـدْ وَاْلأَصْـدِقَـا
27- وَقُــدْرَةٌ إِرَادَةٌ وَغَـايَـرَتْ - أَمْرًا وَعِلْمًا وَالرِّضَـا كمـا ثَبَـتْ
28- وَعِلْمُهُ وَلاَ يُقَـالُ مُكْتَسَـبْ - فَاتْبَعْ سِبِيلَ الحَقِّ وَاطـرَحِ الرِّيَـبْ
29- حَيَاتُهُ كَـذَا الْكَـلاَمُ السَّمْـعُ - ثُمَّ الْبَصَـرْ بَـذِي أَتَانَـا السَّمْـعُ
30- فَهَلْ لَـهُ إِدْرَاكٌ أًوْ لاَ خُلْـفُ - وَعِنْـدَ قَـوْمٍ صَـحَّ فِيـهِ الْوَقْـفُ
31 - حَـيٌّ عَلِيـمٌ قـادِرٌ مُرِيـدُ - سَمِـعْ بَصِيـرٌ مَـا يَشَـا يُرِيـدُ
32- مُتْكَلِّمٌ ثُـمَّ صِفَـاتُ الـذَّاتِ - لَيْسَـتْ بِغَيْـرٍ أَوْ بِعَيْـنِ الــذَّاتِ
33- فَقُـدْرةٌ بِمُمْـكِـنٍ تَعَلَّـقَـتْ - بِـلاَ تَنَاهِـي مَـا بِـهِ تَعَلَّـقَـتْ
34- وَوَحْدَةً أَوْحِتْ لَهَا وَمِثْـلُ ذِي - إِرَادَةٌ وَالْعِلْـمُ لـكِـنْ عَــمَّ ذِى
35- وَعَمَّ أَيْضًا وَاجِبًا وَالمُمْتَنِـعْ - وَمِـثـلُ ذَا كَـلاَمُـهُ فَلْنَـتَّـبِـعْ
36- وَكُلُّ مَوْجُودٍ أَنِطْ لِلسَّمْعِ بِـهْ - كَذَا الْبَصَـرْ إِدْرَاكُـهُ إِنْ قِيـلَ بِـهْ
37- وَغَيْرُ عِلْمٍ هـذِهِ كمـا ثَبَـتْ - ثُـمَّ الحَيَـاةُ مَـا بشَـيْ تَعَلَّقَـتْ
38- وَعِنْدَنَا أَسْمَاؤُهُ الْعَظِيمَـةْ - كَـذَا صفَـاتُ ذَاتِـهِ قَدِيـمَـةْ
39- وَاخْتِيرَ أَنَّ اسْمَاهُ تَوقِيفِيَّةْ - كَذَا الصِّفَاتُ فاحْفَـظِ السَّمْعْيَّـةْ
40- وَكُلُّ نَصٍ أَوْهَمَ التَّشْبِيهَـا - أَوِّلْـهُ أَوْ فَـوِّضْ وَرُمْ تَنْزِيهَـا
41- وَنَزّهِ الْقُـرْآنَ أَيْ كَلاَمَـهْ - عَنِ الحُدُوثِ وَأحْـذَرِ انِتْقَامَـهْ
42- وَكُلُّ نَـصٍ لِلْحُـدُوثِ دَلاَّ - اِحْمِلْ عَلَى اللَّفْظِ الـذَّي قَـدْ دَلاَّ
43- وَيَسْتَحِيلُ ضِدُّ ذِى الصِّفَات - فِي حَقِّهِ كالْكَوْن فِـي الْجِهَـاتِ
44- وَجَائِزٌ فِي حقِّهِ مَا أَمْكَنَـ - إِيجَادًا إعْدَامًـا كَرَزْقِـهِ الْغِنَـا
45- فَخَالِقٌ لِعَبَدْه وَمَـا عَمِـلْ - مُوَفِّـقٌ لِمَـنْ أَرَادَ أَنْ يَـصِـلُ
46- وَخَـاذِلٌ لِمَـنْ أَرَادَ بُعْـدَهُ - وَمُنْجِـزٌ لِـمَـنْ أَرَادَ وَعْــدَهُ
47- فَوْزُ السَّعِيدِ عِنْدَهُ فِي اْلأَزّلِ - كَـذَا الشَّقُّـيِ ثُـمَّ لَـمْ يَنْتَقِـلِ
48- وَعِنْدَنَا لِلْعَبْدِ كَسْبٌ كُلِّفَـا - بِهِ وَلكِـنْ لَـمْ يُؤَثِّـرْ فَاعْرِفَـا
49- فَلَيْسَ مَجْبُورًا وَلاَ اخْتِيَارَا - وَلَيْـسَ كَـلاًّ يَفْعَـلُ اخْتِيَـارَا
50- فَإِنْ يُثِبْنَا فَبِمَحْضِ الْفَضْلِ - وَإِن يُعَـذِّبْ فَبِمَحْـص الْعَـدْلِ
51- وَقَوْلُهُمْ: إِنَّ الصَّلاَحَ وَاجِبٌ - عَلَيْهِ زُورٌ مَـا عَلَيْـهِ وَاجِـبُ
52- أَلَمْ يَرَوْا إيلاَمَهُ اْلأَطْفَـالاَ - وَشِبْهَهَـا فَـحَـاذِرِ المُـحَـالاَ
53- وَجَائِزٌ عَلَيْهِ خَلْـقُ الشِّـرِّ - وَالْخَيْرِ كالإِسْلاَمْ وَجَهْـلِ الْكُفْـرِ
54- وَوَاجِبٌ إِيمَانُنَـا بِالْقَـدَرِ - وَبِالْقَضَا كما أَتَـى فِـي الْخَبَـرِ
55- وَمِنْهُ أَنْ يُنْظَرَ بِاْلأَبْصَـارِ - لكِنْ بِـلاَ كَيْـفٍ وَلاَ انْحِصَـارِ
56- لِلْمُؤُمِنِينَ إِذْ بِجَائِزْ عُلِّقَتْ - هـذِا وَلِلْمُخْتَـارِ دُنْيَـا ثَبَتَـتْ
57- وَمِنْهُ: إِرْسَالُ جَمِيعِ الرُّسْلِ - فَلاَ وُجُوبَ بَلْ بِمَحْضِ الْفَضْـلِ
58- لكِنْ بِذَا إِيمَانُنَا قَدْ وَجَبَـا - فَدَعْ هَوَى قَوْمٍ بِهِـمْ قَـدْ لَعِبَـا
59- وَوَاجِبٌ فِي حَقِّهِمْ: الأمَانَةْ - وَصِدْقُهُمْ وَضِفْ لَهَـا الْفَطَانَـةْ
60- وَمِثْلُ ذَا تَبْلِيغُهُمْ لِمَا أَتَـوْا - وَيَسْتَحيـلُ ضِدُّهَـا كمـا رَوَوْا
61- وَجَائِزٌ فِي حَقِّهِمْ كاْلأَكْـلِ - وَكالْجِمَاعِ لِلنَّسَـا فِـي الْحِـلِّ
62- وَجَامِعٌ مَعْنَى الذَّيِ تَقَـرَّرَا: - شَهَادَتَا اْلإِسْلاَمِ فَاطْـرَحِ الْمِـرَا
63- وَلَمْ تَكُنْ نُبْـوَّةٌ مُكْتَسَبَـةْ - وَلَوْ رَقَى فِي الْخَيْرِ أَعْلى عَقَبَـةْ
64- بَلْ ذاكَ فَضْلُ اللهِ يُؤْتِيهِ لِمَنْ - يَشَـاءُ جَـلَّ اللهُ وَاهِـبُ الِمِنَـنْ
65- وَأَفْضَلُ الخَلْق عَلَى اْلإِطْـلاَقِ - [نبِيُّنَـا] فَمِـلْ عَــنِ الشِّـقَـاقِ
66- وَاْلأَنْبِيَا يَلُونَـهُ فِـي الْفَضْـلِ - وَبَعْدَهُـمْ ملاَئِـكَـة ذِي الْفَـضْـلِ
67- هذَا وَقَوْمٌ فَصَّلُـوا إِذْ فَضَّلُـوا - وَبَعْضُ كُـلٍّ بَغْضَـهُ قَـدْ يَفْضُـلُ
68- بِالمُعْجِـزَاتِ أُيـدُوا تَكَـرُّمَـا - وَعِصْمَـةَ الْبَـارِي لِكُـلٍّ حَتِّـمَـا
69- وَخُصَّ خَيْرُ الخَلْقِ أَنْ قَدْ تَمَّمَا - بِـهِ الجَمِـيـعَ رَبُّـنَـا وَعَمَّـمَـا
70- بِعْثَتُـهُ فَشَرْعُـهُ لاَ يُنْـسَـخُ - بِغَيْـرهِ حَتَّـى الـزَّمَـانُ يُنْـسَـخُ
71- وَنَسْخُهُ لِشَـرْعِ غَيْـرهِ وَقَـعْ - حَتْمًـا أَذَلَّ اللهُ مَـنْ لَــهُ مَـنَـعْ
72- وَنَسْخَ بَعْضِ شَرْعِهِ بِالْبَعَـضِ - أَجِزْ وَمَا فِـي ذَا لَـهُ مِـنْ غَـضٍّ
73- وَمُعْجِزَاتُـهُ كَثِيـرَةٌ غُــرَرْ - مِنْهَـا كَـلاَمُ اللهِ مُعْجِـزُ الْبَـشَـرْ
74- وَاجْزِمْ بِمِعْرَاجِ النَّبِي كما رَوَوْا - وَبَرِّئَـنْ لِعَائِشَـةْ مِـمَّـا رَمَــوْا
75- وَصَحْبُهُ خَيْرُ الْقُرُونِ فَاسْتَمِعْ - فَتَابِعِـي فَتَـابِـعٌ لِـمَـنْ تَـبِـعْ
76- وَخَيْرُهُمْ مِنْ وُلِّـيَ الْخِلاَفَـةْ - وَأَمْرُهُـمْ فِـي الْفَضْـلِ كالْخِلاَفَـةْ
77- يَلِيهُـمُ قَـوْمٌ كَـرِامٌ بَـرَرَهْ - عِدَّتُهُـمْ سِـتٌّ تَـمَـامُ الْعَـشَـرَةْ
78- فَأَهْلُ بَـدْرٍ الْعَظِيـمِ الشَّـانِ - فَأَهْـلُ أُحْـدٍ بَيْـعَـةِ الـرِّضْـوَانِ
79- وَالسَّابِقُونَ فَضْلُهُمْ نَصًّا عُرِفْ - هذَا وَفِـي تَعْيِينِهِـمْ قَـدِ اخْتُلِـفْ
80- وَأَوِّلِ التَّشَاجُـرَ الـذَّيِ وَرَدْ - إِنْ خُضْتَ فِيهِ وَاجْتَنِبْ دَاءَ الحَسَـدْ
81- وَمَالِـكٌ وَسَـائِـرُ اْلأَئِـمَّـهْ - كَـذَا أَبُـو الْقَاسِـمْ هُـدَاةُ اْلأُمَّـهْ
82- فَوَاجِبٌ تَقْلِيـدُ حَبْـرٍ مِنْهُـمُ - كَـذَا حكا الْقَـوْمُ بِلَفْـظٍ يُفْهَـمُ
83- وَأَثْبِتَـنْ لِلأَوْلِيَـا الْكَرَامَـةْ - وَمَـنْ نَقَاهَـا فَانْبـذَنْ كَـلاَمَـهْ
84- وَعِنْدَنَا أَنَّ الدُّعـاءَ يَنْفَـعُ - كما مِنَ الْقُـرْآنِ وَعْـدًا يُسْمـعُ
85- بِكُلِّ عَبْدٍ حَافِظُـونَ وُكِّلُـوا - وَكاتِبُـونَ خِيـرَةٌ لَـنْ يُهْمِلُـوا
86- مِنْ أَمْرِهِ شَيْئًا فَعَلْ وَلَوْ ذَهِلْ - حَتَّى اْلأَنِينَ فِي المَرَضْ كما نُقِـلْ
87- فَحاسِبِ النَّفْسَ وَقِلَّ اْلأَمَـلاَ - فَـرُبَّ مَـنْ جَـدَّ لأِمْـرٍ وَصَـلاَ
88- وَوَاجِـبٌ إِيمَانُـنَـا بِالْـمَـوْتِ - وَيَقْبِـضُ الـرُّوحَ رَسُـولُ الـمَـوْتِ
89- وَمَيِّـتٌ بِعُمْـرِهِ مَـنْ يُقْـتَـلُ - وَغَـيْـرُ هــذَا بَـاطِـلٌ لاَ يُقْـبَـلُ
90- وَفِي فَنَا النفْس لَدَى النَّفْخِ اخْتُلِفْ - وَاسْتَظْهَر السُّبْكِى بقَاهَا اللَّـذْ عُـرف
91- عَجْبَ الذَّنَبْ كالرُّوحِ لكِنْ صَحَّحَا - الْـمُـزَنِـيُّ لِلْـبِـلَـى وَوَضَّـحَــا
92- وَكُلُّ شَيْءٍ هَالِكٌ قَـدْ خَصَّصُـوا - عُمُومَـهُ فَاُطْلُـبْ لِمَـا قَـدْ لخَصُـوا
93- وَلاَ تَخُضْ فِي الرُّوحِ إِذْ مَا وَرَدَا - نَـصٌّ مِـنَ الشَّـارِعِ لكِـنْ وُجِــدَا
94- لِمَالِـكٍ هِـيَ صُـورَةٌ كالجَسَـدِ - فَحَسْبُـكَ الـنَّـصُّ بِـهـذَا السَّـنَـدِ
95- والْعَقْلُ كالـرُّوحِ وَلكِـنْ قَـرَّرُوا - فِيـهِ خِلاَفًـا فَانْظُـرَنْ مَـا فَسَّـرُوا
96- سُؤَالُنَـا ثُـمَّ عَـذَابُ الْقَبْـرِ - نَعِيمُـهُ وَاجِـبْ كَبَعْـثِ الحَشْـرِ
97- وَقُلْ يُعَادُ الْجِسْمُ بِالتَّحْقِيـقِ - عَـنْ عَـدَمٍ وَقِيـلَ عَـنْ تَفْرِيـقِ
98- مَحْضَيْنِ لكِنْ ذَا الْخِلاَفُ خُصَّا - بِاْلأَنْبِيَـا وَمَـنْ عَلَيْهـمْ نُـصَّـا
99- وَفِي إِعَادَةِ الْعَـرَضْ قَـوْلاَنِ - وَرُجِّـحَـتْ إِعَــادَةُ اْلأَعـيْـان
100- وَفِي الزَّمَنْ قَوْلاَنِ وَالْحِسَابُ - حَـقٌ وَمَـا فِـي حَـقٍ ارْتِيَـابُ
101- فَالسَّيِّئَـاتُ عِنْـدَهُ بِالْمِثْـلِ - وَالحَسَنَـاتُ ضُوعَفـتَ بِالْفَضْـلِ
102- وَبِاجْتِنَابٍ لِلْكَبَائِـرْ تُغْفَـرُ - صَغَائِـرٌ وَجَـا الْوُضُـو يُكَـفِّـرُ
103- وَالْيَوْمُ الآخِرْ ثُمَّ هَوْلُ المَوْقِفِ - حَقٌ فَخَفَّـفْ يَـا رَحِيـمُ وَأَسْعِـفِ
104- وَوَاجِبٌ أَخْذُ الْعِبَادِ الصُّحُفَـا - كمـا مِـنَ الْقُـرْآنِ نَصًّـا عُـرِفَـا
105- وَمِثْلُ هذَا: الْوَزْنُ وَالمِيـزَانُ - فَـتُـوزَنُ الْكُـتْـبُ أَوْ اْلأَعْـيَـانُ
106- كَذَا الصِّرَاطُ فَالْعِبَادُ مُخْتَلِـف - مُـرُورُهُـمْ فَسَـالِـمٌ وَمُنْـتَـلِـفْ
107- وَالْعرْشُ وَالْكُرْسِيُّ ثُمَّ الْقَلَـمُ - وَالْكاتِبُـونَ اللَّـوْحُ كُــلٌّ حِـكَـمُ
108- لاَ لاِحْتِيَـاجٍ وَبِهَـا اْلإِيمَـانُ - يَجِـبْ عَلَيْـكَ أَيُّـهَـا اْلإِنْـسَـانُ
109- وَالنَّارُ حَقٌّ أُوجِدَتْ كالْجَنَّـهْ - فَـلاَ تَـمِـلْ لِجَـاحـدٍ ذِي جِـنَّـهْ
110- دَار خُلُودٍ للسَّعِيـد وَالشَّقِـي - مُـعَـذَّبٌ مُنَـعَّـمٌ مَهْـمَـا بَـقِـى
111- إِيمَانُنَا بَحوْضِ خَيْرِ الرُّسْلِ - حَتْـمُ كمـا جَاءَنَـا فِـي النَّـقْـل
112- يَنَالُ شُرْبًا مِنْهُ أَقْوَامٌ وَفَـوْا - بِعَهْدِهِمْ وَقُـلْ يُـذَادُ مَـنْ طَغَـوْا
113- وَوَاجِبٌ شَفَاعَـةُ المُشَفَّـعِ - [مُحَـمَّـدٍ] مُقَـدَّمًـا لاَ تَـمْـنَـعٍ
114- وَغَيْرُه مِنْ مُرْتَضى اْلأَخْيَارِ - يَشْفَعْ كما قَدْ جَـاءَ فِـي اْلأَخْبَـارِ
115- إِذْ جَائِزٌ غُفْرَانُ غَيْرِ الْكُفْـرِ - فَـلاَ نُكَـفَّـرْ مُؤْمِـنًـا بِـالْـوزْرِ
116- وَمَنْ يَمُتْ وَلَمْ يَتُبْ مِنْ ذنْبِهِ - فَـأَمْـرُهُ مُـفَــوَّضٌ لِـرَبِّــهِ
117- وَوَاجِبٌ تَعَذِيبُ بَعْضٍ ارْتَكَبْ - كَبِيـرَةً ثُـمَّ الْخُـلُـودُ مُجْتَـنَـبْ
118- وَصِفْ شَهِيدَ الحَرْبِ بِالْحَيَاةِ - وَرِزْقَـهُ مِـنْ مُشْتَهـى الجَنَّـاتِ
119- وَالرِّزْقُ عِنْدَ الْقَوْمِ مَا بِهِ انْتُفِعْ - وَقِيلَ لاَ بَـلْ مَـا مُلِـكْ وَمَـا اتُّبِـعْ
120- فَيَرْزُقُ اللهُ الحَـلاَلَ فَاعْلَمَـا - وَيَــرْزُقُ المَـكْـرُوهَ وَالمُحَـرَّمَـا
121- فِي الاِكْتِسَابِ وَالتَّوَكُّلِ اخْتُلِفْ - وَالرَّاجِحُ التَّفْصِيـلُحَسْبَمـا عُـرِفْ
122- وَعِنْدَنَا الشَّيْءُ هُوَ المَوْجُودُ - وَثَابِـتٌ فِـي الْخَـارِجِ المَوْجُـودُ
123- وُجُودُ شَيْءٍ عَيْنُهُ وَالْجَوْهَرُ - الْفَـرْدُ حَـادِثٌ عِنْدَنَـا لاَ يُنْـكَـر
124- ثُمَّ الذُّنُوبُ عِنْدَنَا قِسْمـانِ: - صَغِـيـرَةٌ كَبِـيـرَةٌ فَالـثَّـانِـي
125- مِنْهُ الْمَتَابُ وَاجِبٌ فِي الْحَالِ - وَلاَ انْتِقَـاضَ إِنْ يَـعُـدْ لِلْـحَـالِ
126- لكِنْ يُجَدِّدُ تَوْبَةً لِمَا اقْتَـرَفْ - وَفِي الْقَبْولِ رَأْيُهُـمْ قَـدِ اخْتَلَـفْ
127- وَحِفْظُ دِينٍ ثُمَّ نَفْسٍ مَالْ نَسَبْ - وَمِثْلُهَا عَقْـلٌ وَعِـرْضٌ قَـدْ وَجَـبْ
128- وَمَنْ لِمَعْلُومٍ ضَـرُورَةً جَحَـدْ - مِنْ دِينِنَا يُقْتَـلُ كُفْـرًا لَيْـسَ حَـدّْ
129- وَمِثْلُ هذَا مَنْ نَفـى لِمُجْمَـعِ - أَوِ اَسْتَـبَـاحَ كالـزَّنَـا فَلْتَسْـمَـعِ
130- وَوَاجِبٌ نَصْبُ إِمَامٍ عَـدْلِ - بِالشَّرْعِ فَاعْلَـمْ لاَ بِحُكْـمِ الْعَقْـلِ
131- فَلَيْسَ رُكْنًا يُعْتَقَدْ فِي الدِّينِ - فَـلاَ تَـزغْ عَـنْ أَمْـرِهِ المُبِيـنِ
132- إِلاَّ بِكُفْرٍ فَانْبِـذَنَّ عهْـدَهُ - فَاللهُ يَكْفِـيـنَـا أَذَاهُ وَحْـــدَهُ
133- بَغِيْرِ هذَا لاَ يُبَاحُ صَرْفُـهُ - وَلَيْسَ يُعْـزَلْ إِنْ أُزِيـلَ وَصْفُـهُ
134- وَأَمُرْ بِعُرْفٍ وَاجْتَنِبْ نَمِيمَةْ - وَغِيـبَـةً وَخَصْـلَـةً ذَمِـيـمَـةْ
135- كالْعُجْبِ وَالْكِبْرِ وَدَاءِ الحَسَدِ - وَكالْمِـرَاءِ وَالـجَـدَلْ فاعْتَـمـدِ
136- وَكنْ كَمَا كانَ خِيَارُ الخَلْـقِ - حَلِيـفَ حِـلْـمٍ تَابِـعًـا لِلْـحَـقِّ
137- فَكُلُّ خَيْرٍ فِي اتِّبَاعِ مَنْ سَلَف - وَكُلُّ شَرٍ في ابْتـدَاعِ مِـنْ خَلَـفْ
138- وَكُلُّ هَدْيٍ لِلنَّبِّي قَـدْ رَجَـحْ - فَمَا أُبِيحَ افْعَلْ وَدَعْ مَـا لَـمْ يُبَـحْ
139- فَتَابِعِ الصَّالِحَ مِمَّـنْ سَلَفَـا - وَجَانِـبِ الْبِدْعَـةَ مِمَّـنْ خَلَـفَـا
140- هذَا وَأَرْجُو اللهَ فِي اْلإِخْلاصِ - مِـنَ الرَّيَـاءٍ ثُـمَّ فِـي الْخَـلاَصِ
141- مِنَ الرَّجِيمِ ثُمَّ نفْسِي وَالْهَوَى - وَمَـنْ يَمِـلْ لِهـؤُلا قَـدْ غَــوَى
142- هذَا وَأَرْجُو اللهَ أَنْ يْمنحَنَـا - عِنْـدَ السُّـؤَالِ مُطْلـقًـا حُجَّتَـنَـا
143- ثُمَّ الصَّلاَةُ وَالسَّـلاَمُ الدَّائِـمُ - عَلَـى نَـبِـيٍ دَأَبُــهُ المَـرَاحِـمُ
144- [مُحَمَّدٍ] وَصَحْبِـهِ وَعِتْرَتِـهْ - وَتَابِـعٍ لِنَهْـجِـهِ مَــنْ أَمَّـتِـهْ
Wednesday, December 14, 2016
bhs inggris
1. Dani mempunyai berat badan 45 kg
Raka mempunyaoi berat bada 60 kg
Berat badan danui lebih ringan dari raka
Berat badan raka lebih berat dai dani
2. Tinggi badan kaka 175 cm
Tinggi badan adik 160 cm
Kaka lebih tinggi dari adik
Adik lebih pendek dari kaka
3. Kulkas nida suhunya 50 c
Kulkas dani suhunya 60 c
Suhu kulkas nida lebih rendah dari suhu kulkas dani
Suhu kulkas dani lebih tinggi dari suhu kulkas nida
1. Dani has a weight of 45 kg
Raka mempunyaoi bada weight 60 kg
Danui lighter weight than raka
Raka heavier weight dai dani
2. Height 175 cm kaka
Sister height 160 cm
Kaka is higher than sister
Sister shorter than kaka
3. Refrigerator temperature nida 50c
Dani refrigerator temperature is 60 c
Nida refrigerator temperature is lower than refrigerator temperature dani
Dani refrigerator temperature is higher than the temperature of the refrigerator nida
Monday, December 12, 2016
fungsi BMT
Fungsi
§ Mengidentifikasi, memobilisasi, mengorganisasi, mendorong dan mengembangkan potensi ekonomi anggota, kelompok anggota muamalat (Pokusma) dan daerah kerjanya.
§ Meningkatkan kualitas SDM anggota dan pokusma menjadi professional dan islami sehingga semakin utuh dan tangguh dalam menghadapi persaingan global.
§ Menggalang dan memobilisasi potensi masyarakat dalam rangka meningkatkan kesejahteraan anggota.
§ Menjadi perantara keuangan antara agnia ( Yang berhutang ) sebagai shahibul maal dengan dhuafa sebagai mudharib, terutama untuk dana sosial seperti zakat, infaq, sedekah wakaf hibah dll.
§ Menjadi perantara keuangan antara pemilik dana baik sebagai pemodal maupun penyimpan dengan pengguna dana untuk pengembangan usaha produktif.
EKONOMI DAN PANCASILA
Indonesia sebagai negara dengan diversitas masyarakat yang tinggi membutuhkan sistem ekonomi pancasila sebagai pilar bangsa dalam membangun negeri yang kokoh, damai, dan sejahtera.
Secara historis ekonomi pancasila bukanklah hal yang baru baik dilihat dari persepsi filosofis, konsepsi, maupun implementasi. Karena pada dasarnya sistem ini muncul sebagai jalan keluar atas berkembangnya sistem perekonomian liberal dan sosial di ranah masyarakat bumi pertiwi.
Istilah ekonomi pancasila pertama kali dibahas dalam sebuah artikel yang dibuat oleh Dr. Emil Salim pada tahun 1967. Istilah ini kemudian mulai menjadi sorotan pada 1979, sehingga menjadikannya sebagai suatu sistem yang mampu menopang kebijakan pemerintah.
Suatu sistem perekonomian yang khas tentu saja harus dimiliki sebuah bangsa. Karena selain dapat menjaga daya tahan budaya bangsa ditengah badai globalisasi juga dapat membantu pemerintah mengatasi permasalahan perekonomian dan finansial yang semakin lama semakin kompleks.
Selanjutnya, sistem perekonomian yang dikembangkan tentu saja harus sesuai dengan ideologi bangsa ketika sistem tersebut diimplementasikan.
Sehingga sangat tepat jika Indonesia mengkombinasikan nilai-nilai pancasila sebagai dasar dan ideologi negara dengan sistem ekonomi yang menjadi penentu kebijakan baik pemerintah, masyarakat, maupun individu.
Pancasila telah dijadikan ideologi bangsa kita sejak beberapa dekade lalu. Bahkan nilai-nilai nya telah tertulis beberapa abad sebelum indonesia terbentuk.
Oleh sebab itu sistem ekonomi pancasila sangat relevan dengan nilai-nilai dasar negara yang telah dibangun oleh para founding fathers bangsa ini.
Implementasi Sistem Ekonomi Pancasila sebagai Pilar Bangsa
Dalam tahapan implementasinya sebenarnya tujuan yang mendasar dari sistem ini adalah agar Indonesia bisa menghasilkan sebuah panduan kebijakan perekonomian yang bisa menjadi jati diri bangsa. Yaitu sistem perekonomian yang sesuai dengan Nilai-nilai pancasila yang tertuang dalam sila pertama sampai dengan sila ke lima. HARYANTO97
Ketuhanan Yang Maha Esa
Dua hal mendasar yang terkandung dalam sila pertama ini sehubungan dengan perekonomian berbasis pancasila, yaitu
Menjamin kemerdekaan setiap warga negara tanpa diskriminasi untuk beribadah menurut agama dan kepercayaannya dengan menciptakan suasana yang harmonis dan toleransi yang sesuai bukan yang kebablasan
Memajukan toleransi dan kerukunan agama agar semua elemen masyarakat dapat berpartisipasi aktif dalam memajukan perekonomian bangsa
Kemanusiaan Yang Adil dan beradab
Nilai yang perlu diimplementasikan dalam hal ini adalah bahwa negara memperlakukan warganya sebagai makhluk yang bermartabat. bukan masyarakat kelas kedua, ketiga, atau bahkan kesekian.
Persatuan indonesia
Hal ini bisa diwujudkan dengan analogi gambar disamping. Artinya semua elemen bangsa baik pemerintah maupun masyarakat harus bahu membahu, bersinergi, dan bekerjasama memajukan perekonomian Indonesia.
Negara kita mampu menjadi cerminan perekonomian dunia dengan syarat yang mendasar, PERSATUAN.
Karena kita semua sadar bahwa masyarakat kita begitu multikultural, jika tidak ada perekat yang kuat, sekali goyah maka hancurlah bangsa ini.
Inilah solusi yang diberikan pancasila jika dikolaborasikan dengan sistem perekonomian yang akan mampu menjadi perekat yang kuat dan tahan banting.HARYANTO97
Kerakyatan yang dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan Perwakilan
Ini merupakan sila yang penting, karena asas bangsa kita mengedepankan nilai-nilai perwakilan dan permusyawaratan dalam menghadapi masalah dan menemukan solusinya.
Rakyat adalah kedaulatan tertinggi. Dalam artian bahwa perekonomian harus mengedepankan kepentingan rakyat diatas kepentingan oknum.
Pemerataan pendapatan akan menjadi fokus utama yang pada akhirnya akan menaikan taraf hidup banyak orang. Negeri kita akan jaya, asalkan sila ini diimplementasikan dengan kebijakan perekonomian yang matang.
Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia
Keadilan sosial berarti keadaan yang seimbang dalam suatu dinamika perekonomian masyarakat, namun ternyata dalam kenyataannya sila ke-5 masih memiliki banyak kekurangan. HARYANTO97
Perwujudan suatu keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia setelah 69 tahun merdeka masih belum maksimal sekaligus merupakan sila yang diabaikan oleh penyelenggara Negara Kesatuan Republik Indonesia dari saat kemerdekaan 17 Agustus 1945 sampai dengan saat ini.
Ini ditandai dengan saat ini adanya kurang lebih 100 juta rakyat Indonesia (menurut data Bank Dunia) berada dibawah garis kemiskinan atau kurang lebih 40 % dari bangsa Indonesia ini menandakan masih besarnya kesenjangan sosial di indonesia karena pemerataan pendapatan yang belum memadai.
Demikianlah gambaran tentang bagaimana seharusnya sebuah sistem perekonomian berbasis pancasila dijadikan sebagai pilar bangsa dalam rangka mewujudkan kehidupan yang gemah ripah loh jenawi – tentram, makmur, dan sejahtera.
Baca juga artikel menarik lainnya, negara terkaya di dunia dan negara terkecil di dunia.
Saat ini bangsa kita membutuhkan sosok pemimpin yang mampu mengintegrasikan semua sumber daya Indonesia agar mampu menghasilkan kebijakan yang PRO-Rakyat dan PRO-Pemerintah. Semoga artikel ini selain memberikan informasi ekonomi juga mampu memberikan kesadaran bagi siapapun khususnya generasi muda sebagai pemegang tongkat estafet dimasa yang akan datang.
BAITUL MAL WAT TAMWIL
PENGERTIAN
BMT merupakan kependekan dari Baitul Mal wa Tamwil atau dapat juga ditulis dengan baitul maal wa baitul tamwil. Secara harfiah baitul maal berarti rumah dana dan baitul tamwil berarti rumah usaha. Baitul maal dikembangkan berdasarkan sejarah perkembangannya, yakni dari masa nabi sampai abad pertengahan perkembangan islam. Dimana baitul maal berfungsi untuk mengumpulkan sekaligus mentasyarufkan dana sosial atau penyaluran dana yang non-profit, seperti : zakat, infaq dan shodaqoh. Sedangkan baitul tamwil merupakan lembaga bisnis yang bermotif laba, yakni sebagai usaha pengumpulan dan penyaluran dana komersial.
Dari pengertian tersebut dapat ditarik suatu pengertian yang menyeluruh bahwa BMT merupakan organisasi bisnis yang juga berperan sosial. Peran sosial BMT dapat terlihat pada defenisi baitul maal, sedangkan peran bisnis BMT terlihat dari defenisi baitul tamwil. Usaha-usaha tersebut menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari BMT sebagai lembaga pendukung kegiatan ekonomi masyarakat kecil dengan berlandaskan syariah.
Sebagai lembaga sosial, baitul maal memiliki kesamaan fungsi dan peran Lembaga Amil Zakat (LAZ), oleh karenanya, baitul maal ini harus di dorong agar mampu berperan secara professional menjadi LAZ yang mapan. Fungsi tersebut paling tidak meliputi upaya pengumpulan dana zakat, infaq, sedekah, wakaf dan sumber dana-dana sosial lain, dan upaya pensyarufan zakat kepada golongan yang paling berhak sesuai dengan ketentuan asnabiah (UU Nomor 38 tahun 1999).
Sebagai lembaga bisnis, BMT lebih mengembangkan usahanya pada sektor keuangan, yakni simpan pinjam. BMT mempunyai peluang untuk mengembangkan lahan bisnisnya pada sektor riil maupun sektor keuangan lain yang dilarang dilakukan oleh lembaga-lembaga keuangan bank. Karena BMT bukan bank, maka ia tidak tunduk pada aturan perbankan.
Subscribe to:
Posts (Atom)

